- Mengapa kata ganti untuk Allah dalam Bahasa Arab adalah “huwa” dan turunannya? Memangnya Allah itu laki-laki?
Beberapa bahasa di dunia membagi kata ganti tidak hanya berdasarkan
sudut pandang (first/second/third person) dan jumlah (singular/plural)
tapi juga gender (masculine/feminine/neuter). Bahasa Arab tergolong
dalam jenis bahasa yang begini. Dalam bahasa-bahasa semacam ini, suatu
entitas personal biasanya harus dirujuk dengan kata ganti maskulin atau
feminin BUKAN NEUTER sekalipun entitas tersebut TIDAK DIKETAHUI
GENDERNYA ATAU MUSTAHIL BERGENDER (sebagaimana Tuhan). Dalam
bahasa-bahasa tersebut, entitas personal genderless ini biasanya dirujuk
dengan kata ganti maskulin. Lebih dari itu, kata ganti maskulin juga
sering kali digunakan untuk merujuk entitas personal secara umum
terlepas dari apapun jenis kelaminnya.
Jika dalam bahasa yang menyertakan kategori neuter dalam pembagian kata ganti saja masih digunakan kata ganti maskulin untuk entitas personal singular genderless, APALAGI dalam Bahasa Arab yang memang TIDAK MEMILIKI KATEGORI KATA GANTI NEUTER. Mau tidak mau harus digunakan kata ganti maskulin untuk entitas personal singular genderless (dalam hal ini Allah ‘Azza wa Jalla) karena kata ganti maskulin memang pada dasarnya juga digunakan untuk entitas personal singular secara umum. Inilah sebabnya segala perintah yang ditujukan kepada “anta” atau “antum” dan turunannya juga biasanya secara otomatis berlaku pada “anti” atau “antunna” dan turunannya, namun tidak berlaku sebaliknya. Perintah kepada “anti” atau “antunna” dan turunannya TIDAK berlaku untuk “anta” atau “antum” dan turunannya hingga disebutkan secara eksplisit. - Mengapa Allah sering menyebut diriNya dengan kata ganti
“nahnu” dan turunannya yang bermakna “kami”? Katanya Allah itu satu.
Kontradiktif ini namanya.
Allah menggunakan kata ganti “nahnu” dan turunannya dalam suatu ayat
ketika Dia melibatkan makhlukNya dalam tindakanNya yang dibahas di ayat
tersebut.
Contoh:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.[15:9]”
Dalam tindakan memelihara Al-Quran, Allah melibatkan makhlukNya, yaitu para penghafal Al-Quran. Karena itulah Allah menggunakan kata ganti “nahnu” dan “-naa” dalam “innaa” yang bermakna “kami”.
Contoh lain lagi:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.[97:1]”
Ketika Allah menurunkan Al-Quran, Allah tidak melakukannya sendirian, tapi melibatkan makhlukNya, yaitu Malaikat Jibril ‘alayhissalam. Karena itulah Allah menggunakan kata ganti “-naa” dalam “innaa” dan “anzalnaa” yang bermakna “kami.
Akan tetapi, ketika Allah menyebut diriNya dalam konteks ‘ubudiyah sebagai satu-satunya sesembahan yang haq, Allah tidak pernah menggunakan “nahnu” dan turunannya untuk merujuk diriNya. Allah justru menegaskan ke-Aku-an-Nya dalam ayat-ayat semacam ini.
Contoh:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.[20:14]”
Dalam QS Tha Ha: 14 yang mengandung perintah ibadah kepadaNya, Allah menggunakan kata ganti “aku” berulang-ulang: “-nii” dalam “innanii” dan “fa’budnii”, “ana”, dan “-ii” dalam “lidzikrii”. Semuanya bermakna “aku”, first person singular.
Jadi, penggunaan kata “kami” oleh Allah ‘Azza wa Jalla sama sekali TIDAK mengindikasikan jamaknya sesembahan umat Islam, melainkan menegaskan kesempurnaan bahasa Al-Quran dan sifat “Al-Syakur” yang Allah miliki. Allah tidak pernah mengklaim suatu tindakan yang di dalamnya ada kontribusi makhlukNya sebagai tindakanNya seoorang diri. - Ini ada pertanyaan dari salah satu member forum Laskar Islam bernama foxhound, yang mengaku beragama Protestan, kepada admin LI bernama Abu Hanan
(tritnya terpaksa saya kopas di sini karena menurut saya jawaban Abu
Hanan kurang mengena dan saya tidak bisa komen di forum tersebut). Berikut ini link-nya: http://www.laskarislam.com/t5008-foxhound-abu-hanan-siapakah-dia.
“Bang Abu, tolong jelaskan ayat berikut ini
16:51. Allah berfirman: ‘Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.’
Siapakah Dia yang dimaksud Alloh (sebagai yg berfirman), dan siapakah Ku yang dimaksud Alloh (sebagai yg berfirman), dalam satu kalimat tersebut?”
Pertama-tama yang harus dipahami sebelum mencoba menggugat Al-Quran adalah: (1) Al-Quran turun dalam Bahasa Arab, dan (2) kaidah tata bahasa dari suatu bahasa asing tidak bisa diukur salah-benarnya oleh bahasa lokal.
Dengan demikian, untuk bisa menggugat Al-Quran secara cerdas, yang harus diserang adalah bahasa aslinya, bukan bahasa terjemahannya. Mari kita cek teks asli ayatnya.
وَقَالَ اللَّهُ لَا تَتَّخِذُوا إِلَٰهَيْنِ اثْنَيْنِ ۖ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ
Yang perlu digarisbawahi di sini adalah “innama huwa ilahun wahidun”. Dalam kalimat ini, Allah, meskipun menggunakan kata ganti “huwa”, sesungguhnya TIDAK SEDANG MERUJUK KE ENTITAS PERSONAL MANAPUN SECARA SPESIFIK. Masih ingat, kan, pembahasan tentang penggunaan kata ganti maskulin tadi? Kata ganti orang ketiga tunggal maskulin juga digunakan untuk merujuk pada entitas personal singular secara umum. Dari mana kita tahu bahwa “huwa” di situ tidak merujuk ke entitas personal manapun secara spesifik? Dari penggunaan frase “ilahun wahidun” BUKAN “AL-ILAHUL-WAHID”. Frase “ilahun wahidun” semata-mata digunakan untuk menyatakan bahwa tuhan itu satu, tanpa merujuk ke entitas tuhan spesifik manapun.
Pemaknaan ini dikuatkan dengan penggunaan “innamaa …” yang bermakna “sesungguhnya … hanyalah”. Silakan perhatikan QS Al-Maidah ayat 55 berikut ini:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
Bagian “innama waliyyukum Allahu… dst.” bermakna “sesungguhnya pelindung kalian hanyalah Allah… dst.”. Dengan demikian, kalimat “innama huwa ilahun wahidun” semestinya dimaknai “sesungguhnya tuhan hanyalah satu”. Bedakan dengan QS Asy-Syu’ara: 220 yang struktur makna umumnya jelas-jelas “sesungguhnya dialah X” berikut ini.
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Kalimat “innahu huwa AS-SAMI’ AL-’ALIM” bermakna “sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Ada banyak ayat lain yang polanya seperti ini dan maknanya konsisten. Jadi, dalam Al-Quran, “innahu huwa al-X” bermakna “sesungguhnya dialah X”.
Kalau memang fragmen An-Nahl: 51 di atas bermakna “sesungguhnya Dialah Tuhan yang Mahaesa” SEMESTINYA bunyi fragmen ayatnya adalah “INNAHU HUWA AL-ILAH AL-WAHID”. Akan tetapi, fragmen ayatnya tidak berbunyi demikian. Fragmen ayatnya JUSTRU berbunyi “INNAMA HUWA ILAHUN WAHIDUN”. Ini menunjukkan bahwa fragmen ayat itu lebih tepat jika dimaknai dengan “Sesungguhnya tuhan itu hanya satu” BUKAN “Sesungguhnya Dialah Tuhan yang Mahaesa”.
Di sisi lain, banyak bahasa di dunia ini memiliki “generic pronoun” atau kata ganti umum. Generic pronoun digunakan ketika kita tidak ingin merujuk kepada suatu entitas personal manapun secara spesifik namun kalimat yang kita gunakan memaksa kita untuk menggunakan subjek. Nah, di saat seperti inilah generic pronoun digunakan. Dalam bahasa Inggris, generic pronoun-nya adalah one atau you.
Contoh: One doesn’t simply challenge the Holy Quran without learning Arabic; Yeah, you know, girls are indeed impossible to understand.
Kata one dan you di atas sama sekali tidak merujuk ke entitas personal manapun secara spesifik padahal keduanya adalah kata ganti.
Dalam Bahasa Indonesia, ada juga kata ganti yang digunakan secara generik, yaitu kita (kata ganti personal orang pertama jamak) dan itu (kata ganti demonstratif singular distal).
Contoh: Sesungguhnya tuhan itu hanya satu.
Dalam kalimat di atas, “itu” adalah kata ganti tapi tidak tepat jika dimaknai sebagai kata ganti, malah maknanya lebih dekat ke “adalah”. Sama halnya dengan “huwa” dalam “innama huwa ilahun wahidun”. Dalam kalimat ini, “huwa” adalah kata ganti tapi tidak tepat jika dimaknai sebagai kata ganti, malah lebih tepat dimaknai adalah “adalah”. - Dalam QS As-Sajdah: 5 dan Al-Hajj: 47 disebutkan bahwa
jangka waktu naiknya urusan yang dibawa malaikat dari bumi kepada Allah
adalah 1 hari yang kadarnya 1000 tahun. Namun, di Al-Ma’arij: 4,
disebutkan bahwa 1 hari tersebut kadarnya 50.000 tahun. Mana yang benar?
Sebagaimana yang sudah kita pelajari dari poin-poin di atas, setiap
kata yang Allah gunakan dalam Al-Quran memiliki maksud dan makna yang
tegas dan mendalam. Jika kita cermat, maka akan kita dapati bahwa
terdapat perbedaan yang nyata antara ayat-ayat “1 hari = 1000 tahun” dan
ayat “1 hari = 50.000 tahun”.
Ayat-ayat “1 hari = 1000 tahun” selalu diikuti dengan “mimmaa ta’udduun” yang bermakna “menurut perhitungan kalian” atau lebih harfiah lagi “dari apa yang kalian hitung”. Sementara ayat “1 hari = 50.000 tahun” tidak.Perbedaan signifikan ini mengindikasikan perbedaan peruntukan dan titik acuan.
QS As-Sajdah: 5 lebih mengarah kepada penentuan kecepatan partikel cahaya sedangkan QS Al-Ma’arij: 4 lebih mengarah kepada persamaan dilatasi waktu. Silakan baca sendiri di sini (http://www.speed-light.info/speed_of_light_12000.htm) dan di sini (http://www.speed-light.info/angels_speed_of_light.htm#dilation).
P.S.:
Artikel ini disusun dengan bantuan software riset Al-Quran gratis dan open-source, Al-Anvar.
sumber:
http://cypher-institute.com/kode/492/faq-penggunaan-kata-dilematis-dalam-al-quran/